Lunch time. Salah satu waktu yang kutunggu di hari kerja untuk menghilang sejenak dari ruangan penuh orang dengan layar dihadapannya. Menjauh sejenak dari segala pekerjaan yang ada, mengistirahatkan pikiran dan mental yang kurang stabil akhir-akhir ini. Duduk di atas sofa yang cukup tersembunyi di pojok café dengan pemandangan yang cukup tenang.
Banyak hal yang mulai kupertanyakan. Semakin pudar masa depan yang sudah kubuat sedemikian rupa. Semakin sulit mengendalikan hal yang sudah direncanakan sebelumnya. Banyak hal yang tidak terduga terjadi, error kecil yang terkadang, cukup mengganggu. Namun apa daya, yang dapat kulakukan hanyalah berpura-pura, seolah seluruhnya masih dalam kendali, seolah seluruhnya terjadi sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Bertambah umur setiap detiknya membuat semakin banyak cabang dalam pikiranku yang harus selalu kupertahankan agar tidak menjadi benalu dalam hidup. Bertahan dengan menjaga diri dan pikiran sembari menghadapi kehidupan, yang dapat kusimpulkan, cukup melelahkan. Menanamkan ide dalam pikiran bahwa seluruhnya akan baik-baik saja. Menjalani rutinitas hari sambil bertanya, akankah seluruh hal ini berakhir?
Melangkah perlahan di atas jalan penuh simpang dengan tujuan yang berbeda, jalan dengan cahaya seadanya, jalan yang dipenuhi dengan dinginnya udara malam. Bertemu dengan beberapa orang di setiap simpang jalan yang kulalui, berjalan bersama untuk beberapa saat walau akhirnya berpisah di ujung persimpangan lain. Perlahan-lahan ‘beberapa’ menjadi tiga, dua dan satu. Berharap dalam hati satu orang ini akan menempuh jalan yang sama hingga ujung jalan yang ada. Berharap untuk tidak kembali berjalan sendiri.
Mencoba untuk percaya akan harapan yang ada, walau Aku tahu, harapan dapat menjadi kekecewaan. Mempertimbangkan risiko yang ada, meneguhkan hati untuk memutuskan, perlukah kuletakkan seluruh kepercayaanku dalam harapan. Namun yang Aku tahu, harapan ini membuat jalan yang kulalui terasa lebih ringan, ketakutan perlahan-lahan mulai memudar, udara tidak lagi dingin seperti sebelumnya.
Mulai menyusun rencana yang baru, dengan beberapa alternatif tentunya, dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, sendiri ataupun tidak, untuk setidaknya dalam waktu setahun ke depan. Berusaha untuk memperkecil celah yang mungkin dapat muncul dari rencana yang kubuat. Rencana sederhana yang kuharap tidak akan merugikan orang lain, yang dapat dimengerti dan diterima oleh orang lain. Rencana dengan jalan keluar dari kemungkinan buruk yang dapat terjadi.
“With hope and a plan, everything should be fine.”
Aku si tim percaya harapan, tapi tetep aja selalu overthinking😩
ReplyDeleteWhile we may encounter challenges and setbacks along the way, we shd have faith that the things will unfold according to God’s plan and our best efforts. For sure.
ReplyDeletekayak gelisah, geli basah 🙂
ReplyDelete