Skip to main content

Penyesalan - 2

Duduk di atas sofa empuk dibaluti kulit sintetis sambil menikmati pahitnya latte sembari melihat drama yang ada di dunia maya. Tidak berniat untuk menulis hari ini, tiba-tiba muncul sebuah ide yang cukup menarik diriku untuk mengeluarkan iPad untuk mengulik hal yang cukup rumit untuk dibahas karena sebenarnya, cukup sulit untuk dijelaskan melalui kata-kata. 

 

Sekilas melihat masa lalu, seseorang yang rapuh penuh dengan kebodohan, menjadikan dunia sebagai tersangka atas hal buruk yang terjadi di masa lalu. Tidak pernah terpikir sudah hampir 16 tahun telah berlalu, hidup dalam rasa bersalah, yang tidak akan pernah dapat kuperbaiki. Rasa bersalah terhadap seseorang yang sangat berharga di masa kecilku, yang cukup cepat untuk pergi, di saat Aku sangat membutuhkannya. Papa, orang penuh humor yang selalu membawa canda tawa di setiap pertemuan.

 

Penyesalan yang tidak akan pernah dapat kuperbaiki, penyesalan yang akan selalu ku ingat sampai akhir hidup. Rasa bersalah, yang mungkin, bagi orang-orang bukanlah hal yang besar, bukanlah hal yang perlu disesali. Memang benar, bukan hal yang besar, hanya sebatas kata-kata yang seharusnya lebih dulu kusampaikan kepadanya, namun saat itu rasa malu lebih besar untuk mengutarakannya, ketika waktu masih berdetak. “Aku sayang Papa”.

 

Bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di alam bawah sadar ketika otak sedang berisirahat dari padatnya aktivitas. Tergambar jelas raut wajah dan senyum yang khas disertai dengan candaan gigi palsunya yang selalu mampu membuat Aku, dua orang saudariku dan Mama tertawa lepas. Berkumpul di meja makan menikmati santapan yang telah disiapkan Mama untuk membuat penuh perut yang meronta. Terasa oksigen kebahagiaan memenuhi ruangan, sungguh terasa nyata, walau Aku tahu, saat itu telah menjadi sebuah kenangan.

 

Pernah terpikir, mengapa harus Aku yang terpilih untuk merasakan ini, mengapa Aku harus tumbuh tanpa seseorang yang memiliki peran dalam membawaku ke dunia ini. Selalu membandingkan diri dengan orang lain, orang-orang di sekitar, yang terlihat berbeda, lebih bahagia. Rasa pedih dalam hati yang selalu muncul ketika melihat Mama, namun kagum dengan kegigihannya hingga saat ini, bertahan dari segala guncangan, membuat keluarganya tetap satu. 

 

Pernah mengeluh dan bertanya ke orang terdekat, yang kehidupannya berbeda, yang tumbuh dengan sosok seorang Papa. Sungguh, yang kulihat dari kejauhan selama ini tidaklah seindah yang kubayangkan. Ada yang sudah tidak berkomunikasi hingga ada yang telah ditahap ‘benci’, dengan segala hal yang pernah terjadi sebelumnya. Pertanyaan yang selama ini duduk dalam pikiran seolah-olah diusir paksa oleh pengalaman-pengalaman orang-orang itu. Namun penyesalan tetap bertengger dengan tenang, kokoh, tersenyum, seakan tahu bahwa posisinya tidak akan tergantikan. 

 

Penyesalan membuatku menjadi belajar, belajar untuk menghargai dan setidaknya berani untuk mengungkapkan perasaan sayang ke orang-orang terdekat, walau Aku tau, itu bukanlah hal yang mudah. Penyesalan tak akan pernah hilang, tak akan pernah pergi. Memaafkan diri sendiri atas penyesalan yang ada, melangkah perlahan ke depan, mengurangi penyesalan-penyesalan baru untuk muncul dalam hidup. Berhentilah untuk mencoba memperbaiki penyesalan, seolah-olah waktu mampu berjalan mundur. 

 

“Loving someone is a precious moment, so tell them, before you can’t and regret appears.”

Comments

  1. HUEEE KENAPA BLOG NYA KALI INI SEDIHHH🥺

    ReplyDelete
  2. Feels so sad, but I believe your dad is proud of you now

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

2024

Selamat tinggal, 2023. Aku di sini, menulis sambil mencoba mengingat kembali hal yang terjadi. Tahun yang cukup melelahkan yang dipenuhi dengan canda tawa dan air mata. Bertemu dengan orang-orang baru, yang beberapa dari mereka telah menjadi cukup dekat denganku. Beberapa kali melakukan perjalanan ke negara-negara tetangga bersama dengan orang-orang terdekat. Segala hal tersebut kini telah menjadi kenangan, yang kuharap tentunya, tidak menghilang dari pikiranku.    Mengucapkan selamat datang kepada tahun yang baru, 2024, yang menurut beberapa orang, merupakan waktu untuk menjadi pribadi yang baru pula. Ada yang bertekad untuk melakukan sesuatu yang baru, dalam hal pekerjaan, kisah asmara hingga ada yang berencana untuk membuat usaha sendiri. Namun ada juga yang tetap melanjutkan rencana yang telah dibuat di tahun-tahun sebelumnya. Bagiku tahun ini adalah tahun dimana Aku akan mengambil langkah besar dalam hidup, yang mungkin tidak dimengerti sebagian orang. Tahun yang kuharap ...

Life - 2

“ Live your life ”. Someone once said this when I voiced my frustrations. Simple words, yet with a depth I hadn’t grasped at first. I thought I was living in my life, but deep down, I wanted to scream, to shout it out because what you see isn’t what I feel. On the surface, it all seems fine, but beneath, the waves are churning. Pretending is easier than exposing the raw truth, isn’t it? Maybe it’s a lie to others, but it’s my way to cope.   As Adele writes in “ To Be Loved ”, one of my favorite songs of hers, “ Let it be known that I tried ”. And I tried, I have. I’ve tried countless times to live this life on different terms. Every morning when my eyes open, my mind races: “ What will I do with this day, with this life? ”. It’s not about comparison, not a measure against someone else’s existence. It’s about me, my life, and what it means. It’s not just about love, work, or family. It’s bigger, broader–something that stretches into every part of my being.   Someone else said, ...

Friends

Kembali. Menulis di salah satu restoran yang berjarak kurang lebih dua jam dari Ibu Kota Jakarta. Menghampiri kedamaian alunan instrumental klasik dan gemercik air yang menenangkan. Udara malam yang semakin sejuk diiringi kodok yang berdengkang membuat suasana hati menjadi lebih tenang. Kembali menulis, bukan karena suatu kewajiban, namun kondisi hati dan pikiran yang mendukung untuk membagikan suatu ide yang mungkin dapat berdampak bagi orang-orang sekitar.   Terhanyut dalam lembaran salah satu  masterpiece  penulis terkemuka, Dale Carnegie, dengan judul " How to Win Friends and Influence People " yang sudah cukup banyak dikenal orang. Awalnya terlintas dalam pikiran ketika salah satu teman baik memberikanku buku ini, apakah Aku benar-benar butuh untuk membaca buku ini. Menurutku, sebagai orang dengan  introvert personality , Aku merasa tidak perlu lagi untuk memenangkan teman-temanku saat ini. Tidak juga pernah terlintas untuk memengaruhi orang lain dengan kehidupa...